Kematian Tuhan “……Pada mulanya, manusia hanya menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa Langit dan Bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadaNya. Dia terlalu luhur bagi ibadah manusia yang tidak memadai. Perlahan ia memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh. Sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya dia dikatakan telah menghilang…” Begitulah kira-kira apa yang dikemukakan oleh Wilhelm Schmidt dalam The Origin of The Idea of God. Ia menyatakan bahwa telah ada suatu agama monoteis primitif. Sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya mereka hanya mengakui satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Dan sejarah memang selalu terulang. Seperti sebuah episode yang selalu berulang dan berulang. Hal tersebut merupakan kontraksi sejarah manusia dengan sejarah itu sendiri. Begitu juga dengan kehidupan aktual kita, kita banyak sekali jumpai manusia hidup dengan berbagai ragam keyakinan. Juga dengan berbagai macam Tuhan ataupun Dewa. Pada awalnya tidak ada kultus khusus untuk-Nya dan Dia tidak pernah tampil dalam penggambaran apapun. Karena Dia memang teramat luhur bagi akal dan budi manusia yang teramat terbatas. Dalam sebuah diskusi dengan banyak kalangan, sebuah pro-testimoni kadang terlempar. Dengan nada yang sama yang juga dikemukakan oleh Schmidt, Kita diciptakan oleh Tuhan atau Tuhan diciptakan oleh kita. ? Satu-satunya metode deduktif tentang ini adalah Sosio-sejarah. Meski demikian sejarah memang lebih membiarkan kecenderungan, bahwa manusialah yang menciptakan Tuhan dan bukan sebaliknya. Hal ini sekaligus peluang untuk dapat berkorespondensi dengan jalannya alur kebenaran yang di sajikan justru oleh sejarah sendiri. Karena sejarah bersifat skeptif, seperti halnya juga kebenaran eksak. Ia akan terus berpeluang untuk teruji. Orang yang tidak mempelajari sejarah akan di kibuli dongeng. Sebuah kata-kata bijak ini dipahat disebuah gereja di Philipina. Tuhan yang satu, tak terjangkau oleh pikiran manusia, namun dia dipersepsi secara berbeda-beda oleh berbagai kelompok manusia sepanjang sejarah. Bahkan setiap generasi hampir secara bersamaan menciptakan citra Tuhannya yang sendiri. Bagaimana mungkin makna ini jadi sedemikian paradoks. Disatu sisi Tuhan adalah satu, namun disisi lain setiap zaman nyatanya dalam sejarah menciptakan Tuhannya sendiri. Apakah mungkin Tuhan adalah suatu oknum. Tentu mengerdilkan arti esensinya. Tapi ini nyata, dan jelas-jelas faktuil. Dalam sejarah kita jumpai hal ini sebagai kenyataan yang tidak bisa kita bantah. Lalu apakah mungkin, Tuhan yang ada saat ini kelak masih akan mengalami perubahan. Jawabannya …..justru sangat pasti. Tuhan mungkin tidak berubah, namun manusialah yang berubah. Persepsi manusialah peluang akan perubahan itu. Kita mungkin ingin mendekatkan Tuhan untuk menjadi sekedar teman tidur, yang menentramkan pada saat yang bersamaan kita juga memohon dia memberikan keajaiban-keajaiban, yang mampu menebalkan keimanan. Sementara itu kita lupa bahwa Tuhan yang sama juga, Tuhan yang menciptakan alam semesta. Yang memberi hukum-hukum atas kekekalan energi. Dan berjalannya semua pusat-pusat alam semesta. Lalu kita mulai memberi tekanan bawa Tuhan Subyektif lah yang benar dengan memberi gagasan akan kebenaran obyektifnya seputar keajaiban, dan Pro-survivorisme terhadap kehidupan kita. (soteriologi) Kita mungkin membayangkan betapa benarnya Tuhan yang kita sembah, lantaran ia memang memberikan keajaiban yang kita mohonkan. Sementara itu Tuhan yang sama juga memberikan kehidupan, dan jawaban-jawaban pada mereka yang justru tidak mempercayainya atau tidak sama dengan gambaran Tuhan yang “benar” yang kita sembah itu. Dan atau sama sekali tidak beragama Robinson Crusoe, merupakan sebuah epic, yang secara tidak sadar mewarnai teologi saat abad 15-18. Cerita ketika dia terdampar di perairan Polynesia. Dan mendapati teman seorang Negro. Yang dalam anggapannya Tuhan si Negro adalaha Setan. Tentu yang dia maksud “Setan” karena temannya berkulit hitam. Berwajah sangar. Dan bertuhan Buaya. Sedangkan Robinson Crusoe, menggambarkan Tuhannya persis seperti dirinya. Berkulit putih dan tentu saja rupawan. Ketika Temannya mengatakan yang disembahnya adalah yang Maha Kuat, maha tidak tertandingi, maha ada, maha tersembunyi dan menunjuk simbolisasinya adalah Buaya. Maka praktis lengkap sudah gambaran Setan itu. Hal ini sebuah gambaran subyektif terhadap kebenaran. Hanya saja kita mungkin luput bahwa, penggambaran citra Tuhan, mungkin berbeda dalam setiap keyakinan. Tetapi bahwa Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, tak pernah diragukan lagi, dan hampir semua kepercayaan secara bersamaan menyatakannya. Kita dan semua hidup dalam sebuah botol yang sama. Dalam alam semesta yang sama. Apakah mungkin kita sang pembuat botol itu sendiri oknum yang berbeda. Jika si Lisa, Dian, Nita, Maureen. Lia, Dani Berbeda agama. Sudah tentu Tuhan. Yang disembahnya berbeda???. Sebagaimana Robinson Crusoe mempersepsikan bahwa yang disembah kawannya yang berkulit hitam adalah setan. Karena jauh dari gambaran fisik Tuhan orang Barat. Jika demikian pemikiran Crusoe bukan hanya mengandung kebencian rasial, melainkan Gambaran Tuhan yang maha Tidak adil. Karena hanya berkulit tertentu sehingga hanya mewakili satu gambaran. Sedangkan Tuhan Pasti Maha Wujud. Segala gambaran. Itulah dia. Pada beberapa dekade belakangan, bahkan terjadi diskursus yang sangat panas. Bahwa Karena Tuhan telah terlanjur secara khusus dikenal sebagai berjenis kelamin “laki-laki” meski dalam bahasa inggris kaum monoteis lazim menunjuk kata ganti-Nya dengan sebutan “he”. Hal ini tentu memberikan sebuah ketidakadilan gender. Dan secara terlanjur gramatikal bahasa Inggris memang membedakan gender sebagai kata ganti orang. Kaum feminis dengan sangat sadar menaruh keberatan terhadap hal ini, persoalan ini membawa Tuhan pada titik yang sangat sulit untuk dicerna. Sehingga jelas memberikan problem yang sangat serius terutama Penggunaan kata maskulin ini sebagai kata ganti Tuhan menjadi persoalan dalam bahasa bergender. Dan banyak pula kaum feminis yang secara agresif merubah kata ganti he menjadi she. Akan tetapi, dalam bahasa Yahudi, Arab, dan Prancis, gender gramatikal memberikan nada dan dialektika seksual terhadap diskursus teologis. Yang justru dapat memberikan keseimbangan yang sering tidak ada dalam bahasa Inggris. Misalnya kata Arab Allah (nama tertinggi dari Tuhan) adalah maskulin secara gramatikal, tetapi kata esensi Tuhan. Yang Maha Pengasih dan Penyayang—Ar Rahman Ar Rohim. Adalah feminim. Dalam bible sendiri kata Allah dipakai. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan bahasa ketika masa dan tempat Yesus hidup. Yakni bahasa Aramin.(Arab Kuno) sehingga, tentu dalam masa awalnya Penggambaran tentang Tuhan tidak mengalami polarisasi. Namun ketika pengalihan bahasa. Dengan tanpa memperhatikan bahasa aslinya. Mungkin menjadi jalan menuju polarisasi gramatikal yang pada gilirannya mendorong distorsi makna. Bible sendiri ditulis pertama kali dalam bahasa Yunani. 350 tahun setelah Yesus. Dan sayangnya rasul Paulus tidak memberikan salinan yang berbahasa Aramin. Tentu terjadi suatu rentang waktu yang panjang dan mengalami fase-fase polarisasi gramatikal. Untuk kurun waktu yang lama dan jauh dari apa yang sepatutnya ditangkap dalam awal-awal ajarannya, mungkin distorsi makna memang terkadang tidak terhindarkan. Ini mungkin jalan menuju kematian Tuhan. Justru ketika kita dengan mudah mengambil Tuhan sebagai alat kita mencapai kebenaran subyektif dan asosiatif. Tentu mengandung benih caufinisme. Terkadang cara pandang ini lebih memberikan kebutaan ketimbang pencerahan. Menjadi fundamentalis mungkin menjadi orang yang tenang dan damai, meski dibalik itu, sosok kebenaran akan sangat punitif dan orthodoks. Jika kita jujur tentu saja akan sangat banyak contoh aktual mengenai konlik yang dilandasi atas perbedaan keyakinan, agama, sekte, aliran dan sejenisnya. Perang misalnya. Mungkin menjadi situs paling aktual bagi penjelasan mengapa sosok kebenaran menjadi demikian rawan. Bahwa Perang sadar-ataupun tidak sadar. Disengaja maupun tidak. Jelas masih memiliki kaitannya dengan agama. Karena jika kita bicara jujur. Mungkin jangan-jangan kita memang masih mempersoalkan kebenaran atas kesadaran subyektif. Persis seperti gambaran Crusoe bahwa yang bukan gambaran Tuhan seperti dirinya adalah Gambaran kontra tehadap Tuhan. Mungkin Setan. Irlandia dan Inggris misalnya, sebagai pertarungan Katolik dan Protestan, atau Israel dan Palestina, sebagai wujud Jihad kaum muslim dan semangat zionisme Israel. Sebagai sebuah gagasan yang berakar pada keyakinan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang terpilih oleh Tuhan. (lihat bible). Dan inilah kematian Tuhan itu. Agama sebagai sumber keselamatan dan pengemban arah kedamaian justru menjadi alas konflik yang justru jauh lebih berakibat menyengsarakan. Yang pada gilirannya tentu menyengsarakan citra tentang Tuhan. Sehingga orang justru menjadi sangat tidak ber Tuhan untuk sekedar menghilangkan kegelisahan akan kesengsaraan yang ditimbulkan manakala orang beragama justru mempercayai Tuhan.
Lelaki kecil dalam Kurun masa berlalu………….. Dadan
Sangat menggugah dan aku jadi dapat merenung apakah sampai sekarang aku sudah dapat mengenal Nya, tapi satu hal yang pasti bahwa Dia sudah merawat dan memelihara aku sampai sekarang dengan BAIK
Sekalipun tidak sedikitpun hati ini mengenalnya…